Sejarah Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao

sejarah obat kanker chang sheuw tian ran ling yaoBerbicara tentang sejarah/ histori obat kanker Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao produk Daun Teratai, maka tak terlepas dari sejarah almarhum Saleh Setiawan, penemu obat kanker ini pada 1986. Pada awalnya beliau terserang kanker karsinoma, yakni kanker yang tumbuh dari sel di lapisan permukaan penutup atau membran pembatas dari organ. Berikut ini kisahnya, sebagaimana dipublikasikan di majalah Kartini No.506 Edisi 1-9 April 1994.

saleh setiawan penemu obat kanker chang sheuw tian ran ling yao
Almarhum Saleh Setiawan (kiri) bersama kerabatnya dan seorang pasien.

 

BERKAH AKIBAT TERSERANG KANKER

Penyakit kanker memang menjadi momok yang sangat menakutkan bagi umat manusia dewasa ini. Hal itu tidak terlalu mengherankan, sebab sampai sekarang obat untuk menyembuhkan penyakit ini belum juga ditemukan oleh ahli kedokteran dan farmasi di berbagai penjuru dunia.

Akibatnya, rasio kematian bagi penderitanya relatif sangat tinggi dan yang lebih tragis lagi, hampir semua penderita kanker baru menyadari terserang kanker setelah stadiumnya tinggi dan upaya pengobatannya relatif susah. Hal ini memang dikarenakan kanker tidak mudah diduga, ia bisa begitu cepat mengganas dan dalam waktu yang relatif singkat bisa mematikan dan juga tidak mudah dideteksi. Sebab gejala- gejala awalnya seringkali tidak menimbulkan rasa sakit bagi penderitanya.

Penyakit kanker adalah sejenis tumor yang terdiri dari sel-sel luar biasa atau “abnormal” dan melipat ganda secara berlebihan dan sangat cepat. Sel itu tumbuh begitu saja dan gerak tumbuhnya tidak sebagaimana sel yang lain, sehingga biasa disebut sel “abnormal”.

Sel abnormal ini berkembang secara tak terkendali dan menerobos apa saja yang menghadangnya sehingga memusnahkan jaringan- jaringan yang ada di sekitarnya. Sel-sel yang tumbuh pesat ini menciptakan kelompok-kelompok kecil dan memisahkan diri dari sel induk dan kemudian dihanyutkan oleh darah untuk membentuk tumor/neoplasma yang kedua dan seterusnya.

Istilah kanker itu sendiri sebenarnya adalah istilah awam untuk tumor ganas yang biasanya berakibat fatal. Penyakit ini dapat terjadi pada berbagai organ/jaringan tubuh. Penyebab kanker adalah faktor genetik, radiasi (ion, elemen radioaktif dan sinar ultraviolet), virus, obat dan hormon, tembakau/rokok, zat-zat karsinogenik lain dalam lingkungan, diet, serta faktor psikis (stress).

Dalam proses terjadinya kanker, faktor imunologik memegang peranan penting. Penyakit ini akan timbul jika telah terjadi kegagalan respons imonologi dari tubuh. Hal yang memprihatinkan yakni insiden penyakit ini makin meningkat. Laporan WHO memperkirakan dalam tahun 2000 nanti penyakit jantung dan kanker akan merupakan masalah kesehatan utama, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Hal menarik pula, bahwa ada hubungan antara timbul penyakit kanker dan perubahan diet serta cara hidup yang benar dan sehat.

Sel kanker berasal dari sel normal yang mengalami mutasi. Proses terjadinya kanker (karsinogenesis) dapat dibagi dalam dua tahap yakni inisiasi dan promosi. Inisiasi berhubungan dengan perubahan struktur DNA yang disebabkan oleh substansi yang disebut mutagen. Pada tahap promosi, sel yang telah mengalami inisiasi dapat berubah menjadi sel tumor. Komponen yang mempunyai kemampuan inisiasi dan promosi disebut karsinogen lengkap.

Makanan manusia mengandung bermacam-macam mutagen dan karsinogen, serta antimutagen dan antikarsinogen. Aktivitas mutagen dan karsinogen ini dipenuhi oleh oksigen radikal yang juga diketahui merupakan inisiator endorgen dalam proses degeneratif seperti kanker, penyakit jantung koroner, dan proses menua.

Sebenarnya sudah sejak dulu diketahui bahwa hubungan antara nutrisi dan kanker, tetapi baru dalam dua decade belakangan ini hal tersebut mendapat perhatian dari kalangan kedokteran.
Beberapa jenis kanker yang diketahui berhubungan dengan gaya hidup sehat dan nutrisi adalah kanker rongga mulut, kerongkongan, tenggorokan, esofagus, lambung, usus besar, hati, pankreas, paru, payudara, dan kandung kemih.

MENGUATKAN DAYA TAHAN TUBUH
Pada dasarnya tubuh kita mempunyai berbagai mekanisme pertahanan untuk melindungi diri terhadap mutagen dan karsinogen, antara lain dengan cara melepaskan secara terus menerus lapisan permukaan kulit, lambung, usus, kornea, serta enzim dan antioksidan yang melindungi sel-sel tubuh dari radikal oksigen yang merusak DNA. Makanan yang mengandung antioksidan sangat baik karena bersifat antikarsinogen.

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa kanker itu timbul karena terganggunya sistem metabolisme tubuh manusia. Munculnya sel-sel abnormal itu memperlihatkan adanya gangguan tersebut. Karena itu secara sederhana pula dapat dikatakan, meskipun barangkali kenyataannya tidak sesederhana itu, kanker bisa diatasi dengan cara memperbaiki sistem metabolisme tubuh.

Ketika seseorang mantan penderita kanker bercerita bahwa ada suatu ramuan tradisional yang ampuh melawan kanker, rasanya kurang percaya, sebab para dokter terkemuka di dunia saja sampai sekarang belum juga mampu menciptakan suatu formula ideal untuk memerangi kanker.

“Ini benar-benar terjadi,” ujar almarhum Saleh Setiawan, sang mantan penderita kanker punggung ini. Konon sekitar tujuh tahun yang lalu ia terserang kanker. Para dokter yang dihubungi tidak berdaya mengatasinya Harapan untuk sembuh rasanya sudah sulit. Beberapa bagian tubuh telah terserang kanker. Sampai buang airnya pun berdarah.

Beruntunglah dia bertemu dengan seorang kawannya yang membawa ramuan obat tradisional Cina. almarhum Saleh Setiawan memakannya, alhamdulillah ramuan ini cukup berkhasiat, sebab hanya dalam beberapa bulan penyakitnya membaik. Setelah kondisi tubuhnya cukup kuat, almarhum Saleh Setiawan berkunjung sendiri ke daratan Cina dan mencari bahan ramuan obat tersebut.

“Sesuai dengan petunjuk dari buku-buku obat tradisional yang saya baca ramuannya saya lengkapi sehingga khasiatnya lebih terasa. Maka dengan memakan obat tersebut, penyakit saya hilang sama sekali,” cerita almarhum Saleh Setiawan.

RAMUAN TRADISIONAL
Merasa telah berhasil menemukan resep yang relatif cukup ampuh memusnahkan kanker, almarhum Saleh Setiawan mencoba untuk membuatnya lebih banyak. Beberapa orang kawannya yang juga terserang kanker, ternyata berhasil juga. “Asal stadiumnya baru satu atau dua, insyaallah bisa sembuh,” cerita almarhum Saleh Setiawan.

Keberhasilan menolong kawan-kawannya itu ternyata menjadi promosi yang baik bagi penemuannya, sebab semakin banyak orang yang datang meminta ramuan tersebut. Bila sebelumnya hanya masyarakat Bandung saja yang mengetahuinya, belakangan sudah menjalar informasi keampuhan obat tradisional ciptaannya itu.
pak yudi direktur PT.Daun Teratai , chang shuew tian ran ling yao
“Sampai sekarang sudah cukup banyak penderita sakit kanker yang tertolong oleh obat tradisional yang memakai nama Cina Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao ini,” tambah Yudi Y.M. anak almarhum Saleh Setiawan yang berhasil mengembangkan penyebaran obat tradisional ini.

Dewasa ini anggota masyarakat yang terkena penyakit kanker cukup banyak sehingga bila obat ini merata penyebarannya, siapa tahu bisa menolong lebih banyak orang lagi. Karena itu, mereka mempersiapkan suatu kantor distribusi yang representatif di Jakarta dalam waktu dekatnya, meskipun sebenarnya mereka juga menyangsikan apakah mereka bisa memenuhi pesanan bila semakin banyak yang mengetahu khasiat obat ini.

Obat ini pernah diteliti di sebuah laboratorium di Cina, ternyata mengandung zat Germanium dan Polysacheride (PSK). Kedua unsur mineral ini sangat bagus untuk melawan kanker sebab ia mampu menormalisasi metabolisme tubuh agar mampu mencegah dan menolak tumbuhnya sel-sel abnormal/ sel kanker. Selain itu juga untuk meningkatkan daya tahan tubuh guna mencegah faktor patogen (faktor penyebab penyakit) dan melancarkan sirkulasi darah guna mencegah timbulnya radikal bebas yang diakibatkan kekurangan antioksidan.

Melihat komposisi obat yang cukup banyak ini, tim dokter peneliti di Cina meminta almarhum Saleh Setiawan untuk tinggal di Cina saja. Almarhum Saleh Setiawan menolak, dengan alasan, akan lebih baik bila dikembangkan di negeri sendiri. “Saya tidak mau sebab saya pikir akan lebih berguna bila saya kembangkan di Indonesia, maka permintaan itu saya tolak,” ujar almarhum Saleh Setiawan.

Dari segi medis kedokteran mungkin obat racikan Saleh Setiawan di Bandung ini belum disahkan sebagai obat yang mampu memberantas kanker dari tubuh manusia, meskipun sudah terdaftar di Departmen Kesehatan. Akan tetapi, sudah banyak bukti yang bisa berbicara bahwa orang-orang yang secara medis kedokteran sudah dinyatakan tidak bisa lagi diobati ternyata sembuh setelah minum obat racikan almarhum Saleh Setiawan ini.

sejarah obat herbal kanker chang sheuw tian ran ling yao
Suyata, penderita kanker ginjal sembuh setelah meminum ramuan Alm.Saleh Setiawan.

“Perut saya sudah dibelah karena ginjal saya kena kanker dan harus diangkat,” cerita Suyata (52) di rumahnya di Tangerang. “Setelah dibuka ternyata dokter menyerah, mustahil bisa tertolong seandainnya ginjalnya diambil pun, sudah terlalu parah, perut saya ditutup lagi.”

Kepada keluarganya, dokter berpesan agar Suyata diberi makanan yang enak-enak saja, sebab umurnya tidak lama lagi. Akan tetapi, beberapa hari di rumah, Suyata, penjahit kecil di Tangerang meminum ramuan obat racikan almarhum Saleh Setiawan ini. Ternyata dalam beberapa bulan saja, Suyata berangsur baik. Kini, setelah lima tahun, Suyata merasa kondisinya benar-benar pulih lagi.

Suyata tidak hanya sendiri, banyak penderita kanker yang sembuh setelah meminum ini. Kanker dewasa ini sudah menjadi penyakit pembunuh yang menakutkan karena belum memadainya sistem pengobatan yang sudah ditemukan manusia dewasa ini. Ilmu kedokteran seakan sangat lamban dalam meneliti dan menemukan formula kanker ini, sementara itu penyakitna sendiri semakin merajalela, akibat dari sistem makanan, lingkungan hidup yang serasi dengan alam.

Ditemukannya suatu ramuan obat yang terpercaya dan nyata mampu menjinakkan kanker, tentunya sangat menarik untuk disimak. Apalagi, “Obat ini sama sekali tidak mempunyai efek samping. Karena fungsinya menormalkan metabolisme tubuh, memperkuat daya tahan tubuh,” kata almarhum Saleh Setiawan pula. “Ramuannya sangat alami, tanpa ada unsur kimia sama sekali.”

Barangkali, seperti yang selama ini mencari obat ramuan almarhum Saleh Setiawan ini, para penderita yang sudah “divonis” dokter, tak mungkin hidup panjang lagi, bisa coba- coba menggunakan ramuan-ramuan tradisional seperti ini. Sebab sebagai mana yang diisyaratkan agama bahwa untuk mempertahankan hidup itu manusia boleh berupaya sehabis akal dengan tenaganya. Akan bisa sembuh? Hanya Tuhan yang tahu.

DIVONIS MATI OLEH DOKTER SAMPAI BEROBAT KE CINA
Keampuhan sejenis obat tentunya berkaitan dengan apakah penderita yang meminumnya sembuh dari penyakitnya atau tidak. Tentunya hal ini perlu dibuktikan. Apalagi itu obat tradisional dan diracik oleh bukan yang ahli farmakologi dan dari hasil penelitian laboratorium yang canggih. Akan tetapi, banyak penderita yang sembuh bahwa sekurangnya obat ini perlu juga dipertimbangkan.

Keluarga Suyata sempat terpana, sebab pasien yang sudah masuk ruang operasi itu hanya dalam waktu tak lebih dari satu jam dibawa lagi keluar. Tampaknya operasi sudah dilangsungkan, sebab Suyata dalam keadaan tak sadarkan diri. Akan tetapi, seorang dokter mengatakan bahwa ginjal Suyata yang digerogoti kanker itu tidak jadi diangkat.

“ Percuma, penyakitnya tidak akan sembuh. Beri saja makanan yang enak enak, mungkin usianya tidak panjang lagi. Hampir seluruh ginjalnya sudah parah.” Begitu kata dokter.

Semua kaget, semua terkesiap. Maka setelah beberapa hari di rumah sakit, Suyata dibawa pulang. Kepada penderita ini, tidak diberitahukan bahwa penyakitnya tak tersembuhkan. Takut nanti malah putus asa.

sejarah obat herbal kanker chang sheuw tian ran ling yao
Ny.Sudarto sembuh dari penyakit kanker rahim.

Dari cerita seorang kerabatnya, keluarga Suyata mengetahui bahwa ada ramuan obat yang ampuh untuk kanker. Maka dengan segala cara keluarga Suyata yang bukan dari kalangan berada ini mendapatkan obat itu. Hanya beberapa minggu obat tradisional dari Bandung diminum, kondisi Suyata membaik. Kini setelah lima tahun dan terus minum obat itu, meskipun sudah tidak terlalu sering lagi, kondisi Suyata sudah pulih seperti sebelum ia divonis kena kanker ginjal.

Ny. Sudarto, juga di Tangerang heran ketika setelah berhenti haid lebih setahun, tiba tiba ia haid lagi. Anehnya, haid itu datang setiap bulan dalam beberapa hari saja. Bedanya, darah yang keluar terlalu banyak. “Selain itu badan saya terus kurus. Dalam waktu singkat berat badan saya turun 18 kg.”

Pertama diperiksa, oleh dokter dikatakan tidak ada kelainan. Akan tetapi, “haid” itu datang terus dan darah keluar sangat banyak. Oleh seorang anaknya, ibu ini disarankan untuk diperiksa di RS.St. Carolus di Jakarta.

Kecemasan itu menjadi-jadi, ternyata Ny.Sudarto menderita kanker Rahim. Hari itu Ny .Sudarto tidak boleh pulang lagi, harus segera dioperasi. Akan tetapi, saat itu Ny.Sudarto enggan dioperasi sebab akan masuk puasa. Dia minta agar operasi dilaksanakan seusai lebaran saja sebab menurut logikanya, orang dioperasi itu hanya ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Jika gagal berarti ia harus meninggalkan dunia ini. Karena itu, ia ingin menjalankan puasa penuh dulu, minta maaf pada semua orang serta juga minta ampun kepada Allah SWT. agar bisa melaksanakan operasi dengan tenang. Pokoknya sisa sebulan ini ia gunakan untuk beribadah semaksimal mungkin.

Permintaannya dikabulkan. Hanya dua hari seusai lebaran, Ny.Sudarto dioperasi, kandungannya diangkat. Kanker yang menyerangnya saat itu sudah stadium 3 dan hampir sampsi di stadium 4. Maka seusai operasi Ny.Sudarto harus diinfus yang membuat rambutnya harus rontok dan cairan infus yang mwenjalari tubuhnya itu terasa seperti bara api yang menggerayangi tubuhnya.

Ketika itu dikatakan dokter bahwa pengobatan cara infus itu harus dijalankan dua belas kali dengan biaya sekitar 2 juta rupiah sekali pengobatan. Karena tidak mampu, Ny.Sudarto tidak mau lagi diinfus, sampai kemudian ia bertemu seorang kenalannya di pasar dan menceritakan bahwa ada obat kanker di Bandung. Ny.Sudarto mencobanya, ternyata berhasil. Setelah makan obat ini sekitar tiga bulan, kesehatan Ny.Sudarto semakin membaik. Ny.Sudarto yang punya anak enam, yang oleh dokter divonis diusianya tinggal setahun lagi itu sampai sekarang sehat walafiat dan kondisi fisiknya sudah sebaik sebelum diketahui terserang kanker.

Wong Tai King (87 Tahun) tinggal di Situbondo Jawa Timur. Sekitar enam tahun yang lalu, diketahui menderita kanker paru-paru. Oleh tim dokter Bandung, ia diharuskan untuk dioperassi, akan tetapi, karena usianya yang lanjut (ketika itu 82 tahun), dokter mencemaskan kemampuan daya tahan tubuhnya. Operasi dibatalkan. Oleh anaknya, Wong dibawa ke Ghuangzhou (Cina) untuk berobat, ternyata kanker Wong positif dan satu-satunya cara adalah dioperasi.

Setelah dibawa kembali ke Bandung, Wong oleh anaknya diberi minum obat tradisional Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao racikan almarhum Saleh Setiawan. Setelah makan obat itu tiga bulan, Wong dibawa ke dokter lagi dan diperiksa sinar X, ternyata kankernya tidak berkembang sama sekali. Begitu juga setahun kemudiam, ternyata kanker paru itu tidak tumbuh lagi, padahal makan obatnya sudah dikurangi.

Kondisi fisiknya sudah pulih lagi, sehingga bisa lagi menjalankan hobinya jogging setiap pagi. Paru-parunya sudah tidak terasa “merongrong” lagi.

Sedangkan Ichwan, warga Bandung, menderita tumor di lehernya. Benjolan yang mulanya kecil dan tidak terlalu dihiraukan itu, ternyata semakin besar sehingga bila berbicara terlihat turun naik di ruas lehernya.
Atas anjuran seorang kawannya, Ichwan meminum obat racikan almarhum Saleh Setiawan. Reaksi obat itu mulanya mengagetkan, sebab bukannya benjolannya susut, malah tambah besar dan turun naiknya terlihat jelas.
sejarah almarhum saleh setiawan penemu obat kanker herbal
“Reaksi obat itu memang demikian,” jelas almarhum Setiawan. “Benjolan akan membesar, lalu kemudian menyusut dan akhirnya hilang.”

Ichwan yang mulanya cemas, tetap saja cemas dan takut bila benjolan itu tiba-tiba mengganas jadi kanker. Ternyata memang tidak, sebab benjolan itu mengempis dan akhirnya hilang. Ke mana perginya?

“Ya hilang saja, mungkin keluar bersama kotoran tubuh. Pokoknya benjolan itu hilang,” sambung almarhum Setiawan lagi.

Kini leher saya sudah normal lagi, tidak ada benjolan,” tutur ichwan senang. Sampai sekarang Ichwan, Suyata, Wong Tai King, dan juga Pieter Brusandy yang terkena penyakit hepatitis walaupun berhasil disembuhkan almarhum Setiawan tetap meminum ramuan obat tradisional ini.

“Ya untuk menjaga kesehatan saja. Sebab fungsi obat ini selain mengobati, juga memperkuat daya tahan tubuh. Tubuh yang kuat tentunya akan sulit diserang penyakit,” kata Pieter yang tinggal di Palembang. (DR)